Status Tanah Aset Bank Banten, Doddy Geram Dipermainkan Pemkot Tangerang

Status Tanah Aset Bank Banten, Doddy Geram Dipermainkan Pemkot Tangerang

TANGERANG, Poskotanews.co.id – Status tanah aset Bank Banten, yang di jadikan gedung sarana dan prasarana olahraga Kota Tangerang, di jalan Moh. Toha, Kelurahan Nambo Jaya, Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang, LSM TCW dan juga sebagai pelaku pembeli tanah, merasa geram dipermainkan Pemerintah Kota Tangerang

Pasalnya, dirinya dikelabui sistem dari Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Tangerang, masalah status tanah itu, apakah zona hijau atau kuning?.

Menurut Ketua Umum DPP LSM Tangerang Corupption Watch (TCW ), Doddy Ar Kotto, dengan panggilan bung Doddy, menjelaskan, kronologis kepemilikan tanah AYDA, yang di pegang oleh Bank Banten, yakni, PT. Karya Bumi Mandiri, berstatus tanah zona kuning di tahun 2009. Artinya, tanah itu bisa dibangun.

Dalam sertifikat tersebut, lanjut Doddy, terdata, sertifikat hak guna bangunan (SHGB), No.3545, luas 17.857m2 dan No.3544, luas 27.557m2.

” Dua sertifikat HGB itu, pemiliknya atas nama PT. Bumi Karya Mandiri,” ujarnya, saat dikonfirmasi, di salah satu rumah makan di Kota Tangerang, Selasa (07/11/2023).

Masih dikatakannya, pada waktu itu, PT. BKM, memerlukan anggaran untuk membangun perumahan. Sehingga, ia (PT.BKM-red) meminjam anggaran ke Bank Pundi (sebelum nama berubah jadi Bank Banten), dengan menggadaikan dua sertifikat itu.

” Alhasil, PT BKM mendapatkan pinjaman uang di Bank Pundi, senilai Rp16,5 Milliar lebih. Namun, PT tersebut, mengalami kesalahan manajemen. Sehingga, tidak terlaksana pembangunan perumahannya,” jelas pakar pertanahan.

Di tahun 2017, dirinya ditugaskan untuk menjual tanah atas nama sertifikat, PT Bumi Karya Mandiri, di Jalan M.Toha, Kota Tangerang. Kebetulan, pengusaha asal Bogor berminat, mau membeli tanah itu. Tapi, dibawah NJOP, senilai Rp950.000,- permeter, jadi totalnya Rp42 Milliar lebih, dengan syarat bisa dibangun. Padahal, NJOP tahun 2017, per meter Rp1.460.000,-.

” Pengusaha itu mengatakan kepada saya, Dod, Saya akan beli tanah itu seharga Rp42 Miliiar lebih. Asalkan, tanah itu bisa di bangun. ” ucap Doddy.

Doddy, yang juga ahli bidang pertanahan ini, langsung mendatangi salah satu Dinas PU Kota Tangerang, yang menangani masalah status tanah, mempertanyakan peruntukan, apakah zona kuning atau hijau?.

” Kepala Dinas PU yang menjabat, pada waktu itu di tahun 2017, mengatakan ke saya, Dod, tanah itu gak bisa dibangun, karena zona hijau,” katanya.

Tambah Doddy, hal itu membuat kecewa dan geram. Pada tahun 2009, zona kuning. Tahun 2017, zona hijau.

” Jadi, dianggap batal dong, pembelian tanah itu, karena zona hijau. Tapi, kenapa tiba- tiba Pemkot Tangerang, di tahun 2023, bisa membangun sapras olahraga,” ujar Doddy, dengan nada kesal.

” Ini mah namanya, kejahatan sistem yang dilakukan Pemkot,” tambahnya.

Dari kejadian ini, Doddypun tak akan diam. Ia pun akan menulusuri kejanggalan- kejanggalan yang terjadi, baik itu Pemerintah Kota Tangerang maupun Bank Banten.

” Lihat nanti, saya akan mengumpulkan data yang lebih akurat,” tutupnya.

Sementara, ketika di konfirmasi, salah satu pejabat Pemerintah Kota Tangerang, yang tidak mau di sebutkan namanya, bahwa zona tersebut, adalah zona kuning.

ALK

Share artikel ini

Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares